Ketika Gagasan Sosialisme, Dibajak Kapitalisme

(Ambin Demokrasi)

Oleh: Noorhalis Majid

BANUA BAKABAR – Kalau mau disusuri akar gagasan memberi makan seluruh anak Indonesia dalam bentuk program MBG, maka akan ketemu bahwa gagasan tersebut akarnya adalah sosialisme. Begitu juga Pendirian Koperasi Merah Putih, Sekolah Rakat dan Kampung Nelayan, kalau mau disusuri lebih jauh ke belakang, semuanya berakar dari pemikiran sosialisme. Dengan demikian, semangatnya sudah bisa dipahami, dalam rangka mewujudkan pemerataan, kesejahteraan sosial bagi semua, dan tentu saja perlawanan atas dominasi modal yang serakah.

Sebagaimana suatu gagasan besar dibangun, terutama terkait gagasan kesejahteraan sosial yang berakar dari sosialisme, haruslah ditopang oleh kemampuan kepemimpinan yang kuat. Bukan hanya kuat, bahkan mensyaratkan kepemimpinan yang keras, tegas, tidak tunduk dan takluk pada praktik-praktik kapitalisme yang menjadi lawan terberat sosialisme.

Kalau kepemimpinannya lemah, apalagi latar belakang yang membesarkannya justru kapitalisme, saban hari hanya dikelilingi oleh para pemodal, maka ide-ide sosialisme hanya akan dimanfaatkan dan bahkan dibajak oleh kaum pemodal itu sendiri.

Kalau MBG konsisten mengikuti akar gagasan sosialisme, maka segala kebutuhan bahan, akan dipasok oleh petani. Sayur, telor, daging, ubi, beras dan seluruh bahan-bahan yang diolah MBG, semuanya bersumber dari petani. Tentu petaninya di lingkungan sekolah lokasi MBG, yang sebahagian merupakan orang tua dari siswa yang mendapatkan MBG itu sendiri. Dengan demikian, MBG akan menggerakkan roda ekonomi, menghidupi petani dan menjamin kebutuhan gizi para pelajar.

Begitu juga dengan Koperasi Merah Putih, kalau konsisten mengikuti gagasan sosialisme, gedungnya dibangun bersama warga dengan konsep padat karya, koperasinya sendiri menjadi wadah menampung produk-produk petani, mendistibusikan kebutuhan pokok petani dalam mengolah sawah dan kebunnya, dan lantas setelah berhasil, kembali menampung hasil pertanian agar mendapat harga pasar yang berkeadilan.

Pun Sekolah Rakyat, menjadi tempat yang dapat menjamin seluruh rakyat tanpa kecuali mendapat akses pendidikan yang memadai. Tidak terhambat oleh pembiyaan apapun, sehingga kelak pendidikan yang cukup, akan mampu mengangkat harkat dan martabat rakyat dari keterkebelakangan.

Sebaliknya, bila MBG dikuasai para pemodal, kelompok kapitalis yang serakah, dengan modal yang dimiliki mampu menguasai 3, 4 bahkan berpuluh dapur MBG. Bahan bakunya juga dipasok oleh jaringan pemodal yang menguasai pasar-pasar besar, dan birokratnya memperdagangkan titik SPPG, “membulantik” bahan baku dan meminta “jatah preman” dalam setiap porsi yang diolah, maka sampai kiamat, tidak akan tercapai gagasan sosialisme yang luhur terkait kesejahteraan sosial.

Demikian juga dengan Koperasi Merah Putih, kalau sejak pendirian bangunan tendernya sudah dikuasai para pemodal, ketika beroperasi bahan-bahan yang dijual bersumber dari produk industri kapitalisme, maka sampai akhir hayat Indonesia pun, koperasi tidak akan menjadi tulang punggung perekonomian warga dalam mewujudkan kesejahteraan bersama.

Kepemimpinan yang lemah, konsep operasional yang belum matang, menyebabkan gagasan sosialisme paling tulus sekali pun, akan dengan mudah dibajak kapitalisme. Karena sesuai karakternya, kapitalisme dengan licin beradaptasi dalam segala situasi, terutama menyusup dalam sistem birokrasi yang korup. (nm)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *