BANUA BAKABAR, JAKARTA – Co-Founder Forum Intelektual Muda (FIM) sekaligus pengamat kebijakan publik, Muhammad Sutisna, menilai Indonesia membutuhkan figur berpengalaman dan kredibel untuk memimpin sektor perdagangan di tengah tantangan ekonomi global dan dinamika perdagangan internasional.
Menurut Sutisna, kondisi ekonomi saat ini menuntut reformasi kebijakan perdagangan yang lebih adaptif, mampu melindungi industri dalam negeri, serta berorientasi pada penguatan kedaulatan ekonomi nasional.
Ia menekankan pentingnya evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola perdagangan domestik dengan membangun kebijakan yang tangguh dan responsif agar sektor perdagangan mampu menjadi motor penggerak pemulihan ekonomi nasional.
“Perlu ada evaluasi tajam terhadap kinerja tata kelola perdagangan domestik dengan membangun mitigasi kebijakan yang tangguh dan responsif agar mesin ekonomi Indonesia mampu bergerak secepat pemulihan ekonomi dunia,” ujar Sutisna di Jakarta, Selasa (28/7/2026).
Dalam pandangannya, perubahan tersebut membutuhkan sosok yang memiliki pengalaman memimpin sektor riil serta rekam jejak yang kuat dalam pengembangan ekonomi nasional.
“Kalau kami ditanya siapa sosok yang mampu mengubah wajah perdagangan dan menjadi figur strategis di sektor tersebut, tentu yang memiliki pengalaman, yakni Harvick Hasnul Qolbi. Pengalamannya saat menjadi Wakil Menteri Pertanian hingga Pelaksana Tugas Menteri Pertanian di era kabinet lalu berhasil meningkatkan produktivitas UMKM berbasis komoditas pertanian sebesar 15 persen di Jawa Timur,” ungkapnya.
Sutisna juga menilai Harvick memiliki modal sosial yang kuat melalui keterlibatannya di berbagai organisasi, seperti Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU), sebagai Bendahara PBNU, serta di Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI). Menurutnya, pengalaman tersebut menjadi nilai tambah dalam menjembatani kepentingan ekonomi domestik dan global.
Selain itu, Harvick dinilai memiliki kapasitas untuk menghadapi dampak perang tarif internasional yang selama ini memengaruhi stabilitas harga sejumlah komoditas unggulan Indonesia.
“Harvick juga dinilai mampu menjadi pemecah kebuntuan di tengah gejolak perang tarif internasional yang kerap menekan harga komoditas utama Indonesia,” katanya.
Lebih lanjut, Sutisna berpandangan bahwa kebijakan ekspor dan impor perlu diarahkan dengan pendekatan yang lebih protektif guna memperkuat daya saing industri nasional, sekaligus mendorong peningkatan ekspor produk bernilai tambah tinggi.
“Pada saat yang sama, kebijakan perdagangan harus diarahkan untuk mendorong ekspor produk bernilai tambah tinggi guna menciptakan surplus perdagangan yang berkelanjutan bagi ekonomi nasional. Jadi Harvick memang pilihan yang tepat dalam mendukung Asta Cita Presiden Prabowo, khususnya dalam dunia perdagangan,” pungkasnya. (Ahmad Fahrizali)






